«

»

Nov 02

Fungsi Kondensasi atau Condenser Chiller

Fungsi Kondensasi Chiller

Condenser pada proses pendinginan (cooling) baik secara langsung dengan menggunakan DX coil maupun secara tak langsung dengan menggunakan chiller water, maka liquid refrigeran yang menguap di dalam pipa-pipa cooling coil (evaporator) telah menyerap panas sehingga berubah wujudnya menjadi gas dingin dengan kondisi superheat pada saat meninggalkan cooling coil. Panas yang telah diserap oleh refrigeran ini harus dibuang atau dipindahkan ke suatu medium lain sebelum ia dapat kembali diubah wujudnya menjadi liquid untuk dapat mengulang siklusnya kembali.

Menurut hukum kedua thermodinamika, maka panas yang dikandung gas dingin tersebut tidak dapat dibuang ke medium lainnya (udara atau air) yang mempunyai suhu lebih tinggi. Oleh karena itu harus ada upaya yang harus dilakukan untuk menaikkan suhu gas tersebut hingga mencapai titik suhu tertentu yang lebih besar dari suhu medium yang digunakan untuk keperluan transfer panas tersebut. Pada mesin refrigerasi mekanik digunakan kompresor yang berfungsi menaikkan suhu gas tersebut hingga titik suhu tertentu dan kemudian menyalurkannya ke dalam pipa-pipa kondenser. Dalam hal ini desain kondensernya harus mampu membuang jumlah panas yang dikandung gas panas akibat kerja kompresi oleh kompresornya dan akibat kerja evaporasi di evaporator.

Fungsi condenser di dalam sistem Refrigerasi Kompresi Gas adalah untuk merubahwujud refrigeran dari gas yang bertekanan dan bersuhu tinggi dari discharge kompresor menjadi cairan refrigeran yang masih bersuhu dan bertekanan tinggi. Pada saat gas bergerak dari sisi discharge kompresor masuk ke dalam condenser, ia
mengandung beban kalor yang meliputi : kalor yang diserap oleh evaporator untuk penguapan liquid refrigeran, kalor yang diserap untuk menurunkan suhu liquid refrigeran dari suhu kondensing ke suhu evaporating, kalor yang dihisap oleh silinder chamber dan kalor yang dipakai untuk mengkompresi gas dari evaporator.
Kondenser harus mampu membuang kalor tersebut ke cooling medium yang digunakan oleh kondensernya Menurut jenis cooling medium yang digunakan, maka condenser dapat dikalasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu :

  1. Air Cooled Condenser (menggunakan udara sebagai cooling medium),
  2. Water Cooled Condenser (menggunakan air sebagai cooling medium dan
  3. Evaporative Condenser (menggunakan kombinasi udara dan air)

Air Cooled Condenser

Air Cooled Condenser

 

Air Cooled Condenser adalah kondenser yang menggunakan udara sebagai cooling mediumnya, biasanya digunakan pada sistem berskala rendah dan sedang dengan kapasitas hingga 20 ton refrigerasi. Air Cooled Condenser merupakan peralatan AC standard untuk keperluan rumah tinggal (residental) atau digunakan di suatu lokasi di mana pengadaan air bersih susah diperoleh atau mahal. Untuk melayani kebutuhan kapasitas yang lebih besar biasanya digunakan multiple air colled condenser. Pemakaian air cooled condenser meningkat pesat untuk pemakaian unit berskala rendah dan sedang karena lebih mudah pemeliharaannya.

Air colled condenser terdiri dari pipa tembaga yang dibentuk coil (continues tube coil) yang dilengkapi dengan rangkaian lembaran tipis alumunium yang disebut fin (finned tube) untuk mempertinggi luas permukaan transfer panas.

Dalam operasinya, gas panas masuk melalui bagian atas coil, dan liquid refrigeran akan diperoleh di bagian bawah coil kemudian dialirkan menuju ke Liquid Receiver yang terletak di bagian bawah condenser. Air-cooled condenser harus selalu diletakkan pada ruangan yang mempunyai lubang ventilasi, untuk dapat membuang panasnya ke udara sekitarnya dan menggantinya dengan udara segar. Untuk membantu proses penukaran
kalor tersebut, digunakan fan yang akan menarik udara menuju ke coil dan kemudian membuangnya ke udara atmosfir.

Air cooled condenser biasanya didesain oleh pabrikannya agar suhu kondensingnya berkisar antara 30 sampai 40 derajat Fahrenheit di atas suhu ambien (udara sekitar). Salah satu kelemahan dari air cooled condenser adalah bila suhu ambien meningkat tinggi, misalnya mencapai 110 oF. Pada kondisi tersebut maka suhu kondensingnya menjadi katakanlah 150o F. Untuk sistem yang menggunakan R12 maka tekanan
kondensingnya dapat mencapai 249 psia atau 369 psia bila menggunakan R22.

Dibandingkan dengan pemakaian water cooled condenser, pada suhu ambien 110 oF maka suhu airnya katakanlah mencapai 75 oF, sehingga suhu dan tekanan kondensing untuk R12 adalah 100 oF dan 130 psia atau 210 psia untuk R22, sehingga komsumsi daya yang diambil kompresornya juga lebih rendah.
Berikut ini diberikan sebuah contoh kasus untuk lebih memperjelas untung rugi menggunakan air cooled condenser. Water cooled condenser dengan suhu air 75 oF, memperlukan kompresor yang berkapasitas 5 Hp untuk menghasilkan efek refrigerasi sebesar 5 ton. Bila menggunakan air colled condenser maka untuk menghasilkan efek refrigerasi yang sama diperlukan kompresor yang berkapasitas 7,5 Hp. Keuntungan
menggunakan water colled condenser adalah konsumsi daya yang lebih rendah dibandingkan dengan air colled condenser untuk kebutuhan setip ton refrigerasi sehingga dapat memperpanjang umur kompresor tetapi me merlukan pemeliharaan yang lebih mahal.

Chiller Service

fungsi condenser, fungsi condensor, yhs-fh_lsonsw, fungsi chiller ac, yhs-mystartdefault

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>